Jumat, 25 Desember 2009

Bangsa Malaysia adalah Bangsa yang Perlu Dikasihani

Ciri khas sebuah bangsa selain teritorial adalah budaya. Jati diri bangsa tidak terlepas dari kekuatan budayanya. Budaya sebagai kekuatan dan ciri non fisik sebuah bangsa menjadi penting karena didalamnya terdapat banyak ornamen aturan sosial. ornamen - ornamen inilah yang mengukuhkan mental bangsa.

Bangsa indonesia, meskipun setelah dasawarsa ini terpuruk secara ekonomi tetaplah kokoh sebagai negara maupun bangsa. Keberhasilan menahan gempuran krisis sosial dan ekonomi yang mendera tiada henti, tidak menyurutkan mental juang bangsa ini. Keterpurukan bukanlah hal yang mesti ditakuti, justru menjdi cemeti yang melecut harga diri. Bangsa ini telah menunjukkan prestasinya lewat demokrasi yang relatif jujur dan terhormat, kebebasan berpendapat dan berekspresi yang longgar juga trelah mengantarkan negeri ini menjadi salah satu kampiun demokrasi.

Sebagai akibat dari kelonggaran berekspresi, bangsa ini telah banyak menghasilkan industri kreatifitas yang berujung pada kemandirian sebagai bangsa. Mental juang ini tidak perlu diragukan lagi.

Nah, sisi inilah yang tidak dipunyai negeri serumpun Malaysia. Maka, dengan mudahnya sebagian masyarakat malaysia mencari identitas diri sebagai bangsa. Tidak heran, kalau ada
budaya hasil karya rakyat Indonesia diaku - aku sebagai budaya lokalnya. Jelas, Malaysia adalah turunan melayu yang nenek moyangnya adalah orang - orang sumatera barat dan bugis. Budaya Melayu sebenarnya juga tinggi, namun mengapa Malaysia harus bersusah payah mengakui budaya orang bangsa lain sebagai budaya lokalnya? Bangsa Malaysia sendiri yang harus menjawabnya!

Hal ini sebagai bukti, bahwa Malaysia adalah kumpulan orang - orang yang tidak kreatif dan sangat permisif. Sebagian bahkan semua milik orang maunya diakui sebagai miliknya tanpa pandang bulu dan berfikir panjang. Ciri - ciri Autis.....!!

Sumber: http://rujakuleg.blogspot.com

Selasa, 22 Desember 2009

Plagiat di Negeri Jiran

Akar kata ‘plagiat’ berasal dari bahasa Latin, ‘plagiarius’, yang berarti ‘penculik’, dan ‘plagiare’, berarti ‘mencuri’. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan ‘plagiat’ sebagai “pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri...; jiplakan”.

Plagiarisme adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri.

Naaahhh ini Seperti halnya Malaysia terhadap budaya-budaya Indonesia , , ,

malu malu donk , , , malu malu donk , , , kamu ketahuan bohong , , ,

 

Template by: Abdul Munir | Blog